Rabu, 29 Desember 2010

" Kasih Sepanjang Jalan "

Di stasiun kereta api bawah tanah Tokyo, rini merapatkan mantel wol tebalnya erat-erat. Pukul 5 pagi. Musim dingin yang hebat. Udara terasa beku mengigit. Januari ini memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Di luar salju masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo tahun ini terselimuti salju tebal, memutihkan segenap pemandangan.

Stasiun yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Rini melangkah perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam ia masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tangannya. Kopi itu sejenak menghangatkan tubuhnya, tapi tak lama karena ketika tangannya menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali rini berdebar.

Tiga hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemennya. Tidak banyak beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adiknya, "Ibu sakit keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal, pulanglah meski sebentar, kak�c". Rini mengeluh perlahan membuang sesal yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali ia menelpon rini, tapi rini tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu seperti bergerak lamban, rini ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba rindunya pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin menyesal�c

Sebenarnya rini sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukannya bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan Yokohama, ditambah lagi mengurus dua puteri remajanya, membuat rini seperti tenggelam dalam kesibukan di negeri sakura ini. Inipun rini pulang setelah kemarin menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan.

Sudah hampir dua puluh tahun rini menetap di Jepang. Tepatnya sejak rini menikah dengan Emura, pria Jepang yang rini kenal di Yogyakarta, kota kelahirannya. Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, mereka menikah.

Masih tergambar jelas dalam ingatannya wajah ibu yang menjadi murung ketika rini mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaannya kelak menikah dengan pria asing ini. Karena tentu saja begitu banyak perbedaan budaya yang ada diantara mereka, dan tentu saja ibu sedih karena rini harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Emura. Saat itu rini berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu.

Pada akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi istri orang asing. Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus rini keluarkan dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk rumah tangga tak bisa mereka pertahankan. Ketika semua hampir karam, Ibu banyak membantu mereka dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya mereka memang bisa sejalan. Emura juga pada dasarnya baik dan penyayang, tidak banyak tuntutan.

Namun ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah rini mengikuti Emura ke negaranya. Rini sendiri memang sangat kesepian diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus rumah tangga mengalihkan perasaannya. Ketika anak-anak beranjak remaja, Rini juga mulai bekerja untuk membunuh waktu.

Rini tersentak ketika mendengar pemberitahuan kereta Narita Expres yang ia tunggu akan segera tiba. Waktu seperti terus memburu, sementara dingin semakin membuatnya menggigil. Sesaat setelah melompat ke dalam kereta ia bernafas lega. Udara hangat dalam kereta mencairkan sedikit kedinginannya. Tidak semua kursi terisi di kereta ini dan hampir semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, rini merebahkan tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti penumpang yang lainnya. Tapi ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali berputar dalam ingatannya.

Ibu..ya betapa ia sadari kini sudah hampir empat tahun rini tak bertemu dengan ibunya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar. Terakhir ketika rini pulang menemani puterinya, Rikako dan Yuka, liburan musim panas. Hanya dua minggu di sana, itupun rini masih disibukkan dengan urusan kantor yang cabangnya ada di Jakarta. Selama ini rini pikir ibunya cukup bahagia dengan uang kirimannya yang teratur setiap bulan. Selama ini rini pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya. Mendadak matanya terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadanya. "Aku pulang bu, maafkan keteledoranku selama ini�c" bisiknya perlahan.

Cahaya matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang terentang. Rini menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi pandangannya. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba rini teringat Yuka puteri sulungnya yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Yuka sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang mereka berbeda pendapat tentang banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun terhadap orang tua.

Rini sering protes kalau Yuka pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin padanya atau papanya. Karena ia dibuat menderita dan gelisah tak karuan. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas membuatnya khawatir sekali. Tapi menurut Yuka hal itu biasa, pamit atau selalu lapor padanya dimana yuka berada, menurutnya membuat ia stres saja. yuka ingin rini mempercayainya dan memberikan kebebasan padanya. Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk menghindari pertengkaran semakin hebat, rini mengalah meski akhirnya sering memendam gelisah.

Riko juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatnya, asyik dengan urusan sekolah dan teman-temannya. Papanya tak banyak komentar. Dia sempat bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan waktu buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak membutuhkan mamanya. Tapi rini berdalih justru aku bekerja karena sepi di rumah akibat anak-anak yang beranjak dewasa dan jarang di rumah. Dulupun rini bekerja ketika si bungsu Riko telah menamatkan SD nya. Namun memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara kerja dan keluarga.

Melihat anak-anak yang cenderung semaunya, rini frustasi juga, tapi akhirnya ia alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Rini jadi teringat masa remajanya. Betapa ia ingat kini, diantara ke lima anak ibu, hanya ia yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Rini menyesal. Sekarang ia bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika ia mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang Rini rasakan ketika Yuka atau Riko juga sering mengabaikannya. Sekarang ia menyadari dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua puterinya adalah peringatan yang Allah berikan atas keteledorannya dimasa lalu. Aku ingin mencium tangan ibu....

Di luar salju semakin tebal, semakin ia tak bisa melihat pemandangan, semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin kabur oleh rinai air matanya. Tergambar lagi dalam benaknya, saat setiap sore ibu mengingatkan kami kalau tidak pergi mengaji ke surau. Ibu sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu' tahajud di tengah malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur'an adalah pemandangan biasa buatnya. Ah..teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan.

Akhirnya setelah menyelesaikan semua urusan boarding-pass di bandara Narita, ia harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam perjalanan bukan waktu yang sebentar buat yang sedang memburu waktu seperti dirinya. Senyum ibu seperti terus mengikutinya. Syukurlah, Window-seat, no smoking area, membuat ia sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi kegelisahannya pada penumpang lain dan untuk berdzikir menghapus sesak yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil berdzikir memohon ampunan-Nya membuat ia sedikit tenang. Gumpalan awan putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu.

Yogya belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir ia meninggalkannya. Kembali ke Yogya seperti kembali ke masa lalu. Kota ini memendam semua kenangannya. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu ia lalui, seperti menariknya ke masa-masa silam itu. Kota ini telah membesarkannya, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya. Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua hari-harinya. Teringat itu, semakin tak sabar ia untuk bertemu ibu.

Rumah berhalaman besar itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih seperti ketika ia kecil dan berlari-lari diantara tanaman-tanaman itu, tentu karena selama ini ibu rajin merawatnya. Namun ada satu yang berubah, ibu...

Wajah ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak sesegar biasanya. Rini berlutut disisi pembaringannya, "Ibu...Rini datang, bu..", gemetar bibirnya memanggilnya. Ia raih tangan ibunya perlahan dan mendekapnya didadanya. Ketika ia cium tangannya, butiran air matanya membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka dan senyum ibu, senyum yang ia rindu itu, mengukir di wajahnya. Setelah itu entah berapa lama mereka berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambut rini, pipinya basah oleh air mata. Dari matanya ia tahu ibu juga menyimpan derita yang sama, rindu pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa. "Maafkan Rini, Bu.." ucapnya berkali-kali, betapa kini rini menyadari semua kekeliruannya selama ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar